Natural Materials Architecture Houses For / Build Houses

Material alami untuk bangunan bukanlah barang baru, melainkan telah banyak dipakai sebelum material hasil industri tercipta. Material-material ini tidak mengalami banyak proses dalam pembuatannya. Hal ini menyebabkan material alami tidak merusak alam, baik pada saat pembangunan rumah (sampah konstruksi) maupun ketika material ini nantinya menjadi usang dan harus dibuang. Jerami termasuk salah satu material alami, berikut adalah beberapa elemen alami lainnya.
Natural materials for building are not new, but has been widely used before the material is created industrial products. These materials do not experience much in the process of manufacture. This causes no damage to the natural material nature, whether during the construction of the house (construction waste) and when this material will become obsolete and must be discarded. Straw is one of natural materials, here are some other natural elements.
Kayu
Kayu selalu menjadi favorit banyak orang karena berbagai keunggulan yang dipunyainya. Kendati jumlahnya kian sedikit karena adanya pembabatan hutan secara besar-besaran, kayu mestinya tetap dipakai karena sifat kealamiannya. Material buatan yang diklaim sebagai pengganti kayu terkadang kurang ramah lingkungan karena nantinya tidak dapat terurai di alam. Oleh sebab itu, kayu sebaiknya jangan ditinggalkan tapi persediaan kayunya yang selalu harus ditambah dan pemakaian kayu dihemat sedemikian rupa. Teknologi pengawetan kayu juga turut membantu penghematan karena kayu bisa lebih kuat dan tahan lama. Selain itu, kayu yang kualitasnya biasa-biasa saja, dengan pengawetan ini menjadi layak untuk struktur bangunan.
Wood
Wood is always a favorite many people for various benefits that have. Although the numbers a little more because of deforestation on a large scale, wood continues to be used properly because of the nature kealamiannya. Artificial material that is claimed as a substitute for wood sometimes less environmentally friendly because it will not decompose in nature. Therefore, the timber should not be abandoned but the wood supply which must be added and saved the use of wood in such a way. Wood preservation technology also helps save because the wood can be much stronger and durable. In addition, wood quality mediocre, with the preservation of this becomes feasible for building structures.
Bambu
Bambu bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam elemen bangunan. Untuk struktur rumah, bambu terbukti memiliki banyak keunggulan. Seratnya yang liat dan elastis sangat baik dalam menahan beban (baik beban tekan/tarik, geser, maupun tekuk). Selain itu, bambu juga bisa dimanfaatkan menjadi material lantai, dinding, atap, dan lain sebagainya. Dibandingkan kayu, bambu lebih cepat beregenerasi sehingga tidak usah menunggu terlalu lama untuk mendapatkan bambu yang layak. Indonesia memiliki jumlah spesies yang cukup besar, namun sayang belum terlalu dikembangkan.
Bamboo
Bamboo can be used for various building elements. For the structure of the house, bamboo has many advantages proved. Fiber is tough and very good elastic in weight-bearing (both load press / pull, shear, and bending). In addition, bamboo can also be a material floor, walls, roof, and so forth. Compared with wood, bamboo regenerate faster so do not wait too long to get a decent bamboo. Indonesia has a number of large species, but unfortunately not very developed.
Finishing alami
Finishing yang terbuat dari bahan-bahan alami tentu lebih sehat bagi penghuni rumah. Kelebihan lain, finishing ini dapat menghadirkan suasanya yang lebih alami pula sesuai tren saat ini. Sayangnya saat ini kebanyakan finishing kebanyakan menggunakan bahan kimia, meski ada beberapa produsen yang mulai mengurangi penggunaannya (misalnya, tidak lagi memakai thinner sebagai pengencer dan finishing non-toxic). Di masa lalu, orang membuat sendiri finishing dari bahan-bahan di alam, seperti tanah liat, kapur, dan lain-lain. Orang Toraja dahulu dalam membuat rumahnya perlu meneteskan tuak (fermentasi air kelapa) untuk membuat warna lebih “keluar” dan tahan lama.
Natural finish
Finishing made of natural materials would be healthier for the occupants of the house. Another advantage, finishing can deliver a more natural suasanya also fit current trends. Unfortunately today most of the finishing most of the use of chemicals, although there are some producers that started to reduce their use (for example, no longer used as a diluent solvent and non-toxic finish). In the past, people make their own finishing of materials in nature, such as clay, chalk, and others. Toraja people in making his home first need to shed a toddy (fermented coconut water) to make the color more "out" and durable.
Cat/Pewarna Alami
Bangunan tradisional Indonesia biasanya cukup meriah warna-warnanya, padahal dulu belum ada industri cat seperti sekarang. Ternyata, cat atau pewarna untuk bangunan tersebut dibuat dari bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Bahan pewarna alami ini tidak ada efek sampingnya bagi penghuni maupun lingkungan. Karena belum dikembangkan, maka pilihan warnanya masih terbatas, seperti hitam, merah, putih, kuning, dan campuran-campurannya. Warna merah dan kuning didapat dari tanah liat, hitam dari arang, putih dari jeruk nipis. Orang Papua terlebih dahulu mengolah sejenis siput untuk mendapatkan cairan putih.
Cat / Natural Dyes
Indonesia's traditional buildings are usually quite lively colors, and had no paint industry as now. Apparently, paint or dye to the building is made from natural materials available in the neighborhood. This natural dye no side effects for the occupants and the environment. Because they have not developed, then the color choices are still limited, such as black, red, white, yellow, and mix-mix. Red and yellow color comes from clay, black from charcoal, white from the lime wedges. First Papuans similar process to get the liquid slug white.












